Melihat dengan Hati

Kayaknya sudah lama banget saya ga update soal perkomputeran, karena selama ini masih setia sama yang terakhir. Nah ceritanya, beberapa bulan lalu, ntah laptop saya kebanting apa gimana, port RAM saya rusak satu, padahal udah beli another RAM yang identik biar bisa perform dual channel gitu, sedih kan, moga-moga masih bisa diperbaiki deh nanti. Sekalian juga pengen upgrade jadi SSD juga buat sistemnya. Seiring dengan bertambahnya usia, punggung saya udah mulai terasa encok akibat setiap hari gendong laptop pulang pergi lab, maka saya putuskan untuk membeli komputer baru. Awalnya saya diberi pilihan untuk laptop atau desktop. Masalahnya kalo laptop pun ya harus ringan dan high performance, namun harga laptop di sini mahalnya minta ampun. Akhirnya setelah melakukan polling di beberapa tempat, saya memutuskan untuk memesan desktop saja, toh zaman sekarang bisa memakai aplikasi-aplikasi untuk remote desktop. Layar LCD udah ada 2 bahkan di lab yang bisa saya pakai, jadi saya memesan desktop tanpa monitor dan saya punya constraint lain yaitu harganya harus di bawah 1000 euro. Akhirnya setelah bercakap-cakap dengan teknisi di sini, saya pun mendapatkan spesifikasi komputer tersebut, dengan rincian di bawah ini (komponen intinya ya):
– CPU i7-6700 3.4Ghz LGA 1151
– Asus Z170-P D3 Audio – HDMI – LAN – USB 3.0
– Kingston HyperX 2x8Gb DDR4 2133Mhz
– Samsung SSD 120gb 850 EVO
– Western Digital HDD 1TB Caviar Blue

Tau kan, kalo selain space enthusiast, saya juga seorang tech enthusiast, hahaha. Sebelumnya, sekitar 4 tahun lalu, saya juga membeli komponen-komponen desktop secara terpisah dengan konsultasi sana-sini ke teman-teman yang juga tech enthusiast, lalu saya rangkai sendiri, hahaha (eh jangan overestimasi ya, gampang kok tinggal pasang-pasang aja), kalo mau liat bisa di sini. Sumpah, saya seantusias itu menunggu kedatangan si komputer baru ini dan bahkan udah kebayang mau diapain aja nanti, hehehe. Entahlah, saya itu memang punya kecintaan-kecintaan khusus terhadap barang-barang elektronik saya, jangan-jangan ada istilah psikisnya juga ya? Hehehe, entahlah. Semoga cepet dateng yaaa.🙂

Err, sama pengen mengucapkan makasih juga sih buat pakbos.😄

Setelah berwacana sekian lama untuk membaca buku karangan PAT, akhirnya kemarin ada seorang kawan yang membawakan buku tersebut dari Bologna. Happiness was just that simple! Lalu, saya mulai membacanya dan sekarang sudah sampai separuhnya. Hal yang membuat saya sangat terkesan sebenarnya adalah munculnya sosok kakak-beradik Sarah dan Miriam de la Croix. Mereka berdua adalah pemudi-pemudi Eropa, putri-putri dari Tuan Asisten Residen. Saya sangat terkesan dengan perbincangan mereka berdua dan Minke. Di situ dapat dilihat bagaimana kualitas dan mentalitas pemudi-pemudi Eropa pada masa itu. Ya, terpelajar dan kritis. Mereka memiliki buah pemikiran yang indah. Lalu, jadilah terpikir oleh saya bagaimana pemudi-pemudi pribumi pada zaman itu. Tak usah di zaman itu, saya melihat diri saya sendiri sekarang. Kekritisan-kekritisan saya mandeg di kepala, segan untuk diutarakan. Maka dari itu, saya menyadari, mengapa dahulu kita tertinggal begitu jauh. Saya mendapat pandangan lain di buku ini. Hal itu bukanlah semata-mata kejahatan dari pihak kompeni, tetapi juga adanya oknum-oknum oportunis di kalangan pribumi. Saya rasa, mentalitas itu juga semacam immunity, apabila tidak ada oknum-oknum oportunis di kalangan pribumi, mungkin perlawanan-perlawanan bangsa pribumi terhadap kompeni memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil. Saya pribadi pun tak menganggap semua kalangan Eropa atau Indo peranakan di zaman itu memiliki itikad yang tidak baik terhadap bangsa kita. Surat yang ditulis oleh Miriam itu membuat saya yang membacanya jadi ikut mbrebes mili. Kepedulian pemudi Eropa terhadap kaum pribumi yang tertindas atau sebenarnya menindas diri mereka sendiri dengan mental proletar mereka. Miriam menekankan adanya kebutuhan untuk berinovasi pada kaum pribumi dan saya sangat setuju. Setelah membaca itu saya pun jadi ikut bersemangat.

Arti terpelajar sendiri menurut saya bukanlah tingginya pendidikan yang ditempuh, definisi terpelajar atau tidaknya seseorang itu sudah ada semenjak di pikiran-pikiran mereka. Saya soroti juga di zaman sekarang, orang-orang sibuk melanjutkan pendidikan dengan setinggi-tingginya, bekerja sesibuk-sibuknya dengan upah setinggi-tingginya, baik pria atau wanita. Ya, tidak ada yang salah, asal semuanya dapat bersikap adil terhadap hak dan kewajibannya sejak dalam pikirannya. Saya pun jadi merefleksikan diri. Apakah saya sudah memiliki buah pikiran-buah pikiran seindah buah pikiran Miriam dan Sarah? Kemana perginya buah pendidikan yang saya tempuh sekian lama? Apakah saya peka dengan apa yang terjadi di dunia ini? Apakah saya sudah berlaku adil semenjak dalam pikiran saya?

*maaf lagi serius
**lanjut lagi

Jadi sebenarnya alasan dibalik pemilihan kata “khulki” untuk judul ini adalah, saya mencari arti dari kata “genuine” selain asli, dan menemukan kata ini eye-catching walaupun tidak dapat ditemukan di KBBI, hahaha. Saya sudah berencana post ini dari minggu lalu, eh malah keduluan blog sebelah yang post dengan konten yang mirip dengan apa yang ada di pikiran saya.

Penunda Akut
Ya, saya selalu mempertanyakan kenapa saya yang penunda akut ini harus melanjutkan studi S3, dan bagi saya susah sekali untuk berubah. Berbulan-bulan saya larut dalam keadaan menyalahkan diri sendiri menjadi seorang penunda akut. Sempat juga saya menghilang dari peredaran. Namun saya tersadar, jika saya terlahir sebagai penunda akut, dan saya tidak bisa mengubahnya, saya juga tidak perlu repot-repot menyalahkan diri sendiri karena efek negatifnya akan lebih besar daripada efek positifnya. Menjadi efisien adalah solusinya. Ya, ketika saya sedang dalam mode menunda, saya harus melakukan sesuatu yang bermanfaat juga, makanya saya baru sadari bahwa saya tipe orang yang sangat mudah merasa bosan. Ga ada gunanya ternyata menyalahkan diri sendiri terus, justru malah makin terdemotivasi. Sekarang sudah saatnya mulai belajar untuk me-reward diri sendiri.

Pikiran yang Berisik
Pikiran saya lebih cerewet daripada mulut saya (bisa dibayangkan kan?), sehingga bagi saya sangat susah untuk fokus pada suatu hal. Nah ini juga salah satu faktor yang sering saya salahkan juga ke diri sendiri. Dulu sepertinya hal ini masih fine, tetapi mungkin baru kali ini saya berada di kondisi di mana saya harus benar-benar fokus dan akhirnya mulai merasa kesulitan. Untuk ini entahlah, mungkin ada bagusnya berlatih fokus dengan cara membaca buku minimal 1 jam dalam sehari. Itu kemarin yang saya resolusikan juga ke diri saya sendiri dan efeknya ternyata lumayan juga.

Post dulu deh sebelum ketunda.

Ini beneran bingung mau dijudulin apa, jadilah judulnya “serampangan”, soalnya ntar kalo dijudulin “ketidakpastian” samaan sama blog sebelah pula.😛 Sebenarnya “serampangan” ini adalah terjemahan bebas dari kata “random”. Seperti biasa, postingan-postingan saya memang dipenuhi dengan sebuah kerandoman. Ini adalah hari terakhir libur easter di sini dan well, I was like masih super mager untuk melihat keindahan kampus, tapi yaudahlah ya. Anyway, sekarang udah memasuki summer time, siap-siap harinya jadi lebih panjang daripada biasanya, waaah. Tetapi yang jelas, libur easter kali ini menyenangkan sekali karena banyak kunjungan dari kawan-kawan yang sudah lama tidak berjumpa, semacam recharging my energy juga. Yeah. Eh, satu hal random lagi ulang tahun penting saya kebanyakan dihabiskan di luar negeri. Ulang tahun ke-20 pas di Jepang dan sekarang ke-25 juga pas di sini, hehehe. Ya, ga penting juga sih, itu mah cuma pengukuran manusia aja sih, cuma yang penting kapan lagi dapet doa-doa yang baik-baik dari family and friends. Dah gini ajah.

Karena pas banget kemarin saya baru menginjak seperempat abad (Ya Allah ga kerasa banget ya perasaan kapan hari masih mainan balon tiup), izinkan saya berkontemplasi sejenak soal hidup saya. Pertama-tama, alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi saya segala keindahan yang dapat saya lihat dan saya rasakan dunia (hope it will last forever). Kedua, Dia yang telah memberikan saya orang-orang terdekat yang mewarnai hari-hari saya. Jadi teh kemaren pas udah mau tidur banget, jam 12 malem tet tiba-tiba ada yang ketok-ketok kamar, whoaaa. Ga nyangka euy, dibela-belain banget tengah malem dateng ke rumah dan bahkan sebagian dari mereka paginya langsung terbang ke Maroko. Makasi ya guysss :* :* :*. Happiness is just that simple. Setelah itu ke kampus dan tiba-tiba ada yang temen-temen lab yang beliin kue, wowww.🙂 Habis itu ngerayain bareng lagi dengan makan okonomiyaki bareng besties di sini dan malah mereka yang traktir, tempatnya lucu dan makanannya enak. Kiyaaa, makasi banget. Daaan, diberi kesempatan buat ketemu temen EL07 dulu dan istrinya. Such a beautiful day. Kalo dipikir-pikir, ga ada alesan buat ga bersyukur, udah berjalan sejauh ini kan, sekarang tinggal caranya biar istiqomah aja sih. Alhamdulillah hidup udah berkecukupan, kadang-kadang kalo kita menoleh ke bawah, banyak yang mungkin ga seberuntung kita (walopun ini sebenernya judgemental, karena mungkin mereka happy-happy aja), let’s say mungkin dari beberapa parameter yang telah kita definisikan lah ya. Well, udah speechless. Kita akhiri dengan senyuman saja.🙂

Di tengah terpaan deadline, saya malah pengen nulis tentang labirin. Sebut saja dia. Ya, dia. *uwopo* Tadi aku berjumpa dengan dia, lalu kami pun bercakap-cakap. Lalu dia ingin mengatakan tentang sesuatu padaku, namun sepertinya dia tidak mendapatkan kata-kata yang tepat. Lalu, dia menggunakan tabletnya untuk menunjukkan benda apa yang ingin dia katakan padaku. Pertama-tama, dia menunjukan gambar ini.

labirin-simple

source: http://tilulas.com/2015/07/25/gambar-labirin-labirynth-permainan-asah-otak-anak/

Lalu dia mengoreksi, bukan, bukan yang tadi, namun ini lebih tepat.

labirin-rumit

source: http://www.shutterstock.com/

Lalu dia menjelaskan, inilah kehidupan riset, seperti labirin, rumit. Bisa saja metode yang sedang kamu coba saat ini adalah jalan buntu, maka kamu harus cepat-cepat beralih ke metode lain, dan jalan buntu itu bisa ditemukan kapan saja. Bahkan mungkin saja karena kamu tidak mengerti bahwa kamu sedang berada di jalan buntu, kamu pun terbentur berkali-kali. Ya, ambil itu sebagai pelajaran. Sekarang, kamu harus mengenali dengan segera jalan buntu itu, sehingga kamu bisa cepat beralih mencoba jalan-jalan yang lain. Waspadalah, beralih ke jalan yang lain juga belum tentu aman, bisa jadi itu jalan buntu yang lain. Ingat, waktumu juga terbatas, jangan sampai kamu tersesat di dalamnya.

P.S.: Menurut loh gimana ga mau tersesat kalo labirinnya kayak labirin yang kedua itu. Heu.
P.S. aka Positive Side: Well, tapi gimana pun juga, jalan keluarnya pasti ada sih, cuma ya itu, nyampe apa kaga. Hahaha.

 

 

Disclaimer: You may unsubscribe me if you get annoyed with this so-called mbti post.

Setelah menjadi maniak mbti yang suka mengidentifikasi orang berdasarkan mbti-nya (I’m sure I’m not the only one who did this :P), saya baru sadar kalo tipe saya (enfp) dan tipe teman saya (entp) adalah tipe ambivert, alias setengah ekstrovert setengah introvert. Well, tapi bener loh, saya orangnya terkadang suka menyendiri di saat-saat tertentu, tapi kalo saya bilang saya anaknya introvert atau antisosial pasti pada ketawa-ketawa ga percaya, hahaha. Well, cuma kadang-kadang aja kok. Makanya kepribadian enfp ini sering dicap ‘sociable but independent’ yang kayaknya cocok-cocok aja sama saya. Atau the most introverted extroverts barengan sama entp. Saya juga punya sahabat yang sama-sama enfp (dan sama-sama aries -> astrologi dibawa-bawa) dan entah kenapa saya ngerasa cara mikirnya mirip bangettt, lucu deh pokoknya. Menurut saya mengidentifikasi pattern dari seseorang itu sangat menyenangkan, entah kenapa. Ya, dari jaman masih kecil juga hobi saya adalah mengobservasi orang, dan karena saya orangnya cukup cuek, saya ga peduli pendapat orang-orang yang saya observasi, entah mereka sebel atau malah antusias, hehehe.

Sebenernya salah satu alasan saya menulis postingan ini sekarang adalah alasan seklasik ‘bored to death’. Saya acapkali merasa sangat sangat bosan dan ga kebayang apa pun yang bisa mengurangi kebosanan saya. Terus bingung mau ngapain. Terus pengen nulis. Terus belum selesai udah keburu bosan. Terus di-post dulu biar ga ketunda-tunda. Terus habis itu bingung mau ngapain lagi.